Bappeda.bojonegorokab.go.id – Pemberdayaan ekonomi masyarakat tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat tumbuh dari usaha kecil, potensi desa, keterampilan, hingga keberanian masyarakat mengubah peluang menjadi aktivitas ekonomi yang produktif.
Semangat tersebut menjadi bagian dari Pemberdayaan Ekonomi Kolaboratif, Inklusif, Berkelanjutan, Mandiri, dan Sejahtera (Peti Koin Bermantra). Program ini tidak sekadar menempatkan masyarakat sebagai penerima dukungan, tetapi mendorong mereka agar mampu mengembangkan potensi dan membangun kemandirian ekonomi.
Sebagai bagian dari upaya memastikan program berjalan sesuai arah dan memberikan manfaat yang berkelanjutan, Bappeda Kabupaten Bojonegoro melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Peti Koin Bermantra Tahun 2026 yang dilaksanakan mulai tanggal 9 September 2026 hingga 23 September 2026.
Monev menjadi ruang untuk melihat pelaksanaan program secara lebih utuh, mulai dari perkembangan kegiatan, capaian, kendala, hingga kebutuhan tindak lanjut di lapangan. Lebih dari sekadar memeriksa apakah kegiatan telah terlaksana, monev berupaya membaca apa yang benar-benar tumbuh dari sebuah intervensi pembangunan.
Ada perbedaan antara memberikan bantuan dan membangun keberdayaan. Bantuan dapat berhenti ketika dukungan diterima. Sementara pemberdayaan justru dimulai setelahnya, yaitu ketika masyarakat mampu mengelola dukungan, mengembangkan potensi, dan menjadikannya sebagai pijakan untuk terus bergerak.
Lima kata kunci Peti Koin Bermantra menjadi fondasi proses tersebut. Kolaboratif berarti melibatkan berbagai pihak, inklusif membuka ruang kesempatan bagi masyarakat, berkelanjutan memastikan manfaat tidak berhenti setelah intervensi, mandiri mendorong kemampuan masyarakat mengelola potensi, dan sejahtera menjadi arah yang ingin dicapai.
Konsep tersebut sejalan dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 70 Tahun 2022 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Pemberdayaan Ekonomi Kolaboratif, Inklusif, Berkelanjutan, Mandiri dan Sejahtera (Peti Koin Bermantra).
Dalam pembangunan, angka dan indikator memang penting. Namun, angka tidak selalu mampu menceritakan seluruh proses yang terjadi di masyarakat.
Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi jembatan antara data dan realitas. Temuan di lapangan dapat menjadi bahan untuk mengidentifikasi hambatan, memperkuat koordinasi, sekaligus menentukan langkah perbaikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Setiap kelompok memiliki kondisi, potensi, dan tantangan yang berbeda. Maka, monev tidak berhenti pada pertanyaan “sudah atau belum”, tetapi bergerak lebih jauh: sejauh mana perubahan terjadi dan apa yang perlu diperkuat berikutnya.
Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan bukan hanya tentang seberapa banyak bantuan diberikan atau kegiatan dilaksanakan. Ukuran yang lebih substantif adalah kemampuan masyarakat untuk mengelola potensi, memanfaatkan peluang, menghadapi tantangan, dan menjaga keberlanjutan aktivitas ekonominya.
Melalui Monev Peti Koin Bermantra Tahun 2026, Bappeda Kabupaten Bojonegoro turut mengawal agar intervensi pembangunan tidak berhenti sebagai aktivitas administratif, tetapi berkembang menjadi proses penciptaan daya.
Dari bantuan menjadi kemampuan. Dari kemampuan menjadi kemandirian. Dari kemandirian, tumbuh jalan menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.
|
|
|
|
|
Sangat Puas
86 % |
Puas
5 % |
Cukup Puas
0 % |
Tidak Puas
10 % |